JAKARTA – Lembaga Alih Teknologi atau lebih dikenal dengan sebutan Technology Transfer Office (TTO) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam sistem inovasi. TTO bisa dikatakan merupakan ujung tombak sistem inovasi, karena TTO menjalankan proses yang paling penting dalam sebuah inovasi, yaitu komersialisasi teknologi.

Dalam kegiatan Knowledge Sharing Alih Teknologi/Technology Transfer dan Workshop Pengembangan Kelembagaan Alih Teknologi/Technology Transfer Office di hotel Ayana Midpalaza, Jakarta (25/11), Plt. Direktur Kawasan Sains Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya, Kemal Prihatman mengatakan saat ini inisiatif dari Pemerintah adalah membangun atau melakukan pembinaan berdasarkan Perpres Kawasan Sains dan Teknologi, adalah bahwa selain ada inkubator, juga ada unit alih teknologi.

“Tanpa adanya komersialisasi dari teknologi yang dihasilkan oleh lembaga penelitian dan pengembangan perguruan tinggi, maka sebuah invensi teknologi hanya akan menghasilkan jumlah kutipan atas jurnal ilmiah saja, tetapi tidak akan menghasilkan suatu nilai ekonomi baik bagi para peneliti maupun industri yang mengadopsi atau mengimplementasikan teknologi hasil invensi tersebut,” katanya.

Kemenristek-BRIN, kata Kemal, juga siap untuk melakukan pendampingan kelembagaan, baik itu perguruan tinggi, STP maupun lembaga-lembaga litbang ataupun industri yang ingin mengembangkan unit-unit alih teknologi. “Makin banyak unit alih teknologi, kemungkinan untuk bisa menghilirkan hasil inovasi ke industri semakin banyak”, ungkapnya.

Sebagai lembaga intermediasi, TTO menjadi jembatan penghubung bagi penyedia teknologi, dalam hal ini lembaga penelitian dan pengembangan teknologi ataupun perguruan tinggi dengan pengguna teknologi, yaitu industri. Selain itu, TTO juga melakukan pencarian pendanaan pengembangan lanjutan teknologi. Mengingat pentingnya TTO terhadap inovasi yg berkelanjutan, maka Kemenristek-BRIN tahun ini memulai langkah awal dalam pengembangan TTO di Indonesia.

“Tahun ini kita berusaha untuk melakukan penguatan-penguatan unit alih teknologi tersebut. Melihat dari pengalaman kita, untuk menghilirkan produk dari KST, Universitas dan lembaga-lembaga litbang, perlu ada pengelolaan yang profesional dan berstandar baik agar supaya penguatan hilirisasinya lebih cepat, mudah dan lebih banyak peluang untuk dilihat badan usaha atau industri. Untuk itu di tahun ini Kemenristekdikti melakukan pembelajaran penguatan-penguatan untuk teman-teman dari KST, perguruan tinggi, dan lainnya”, papar Kemal.

Sesditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Agus Indarjo yang juga hadir dalam acara ini mengibaratkan STP sama seperti perguruan tinggi, di mana dampaknya harus bisa menggerakkan ekonomi bangsa ini melalui teknologi komersial. “Bisa kita lihat, STP kita sudah ada yang baik dan ada juga yang belum. Kedepannya, outcome kita benar-benar ditemukan inovasi komersial apapun. Salah satunya melalui TTO ini.

Kesuksesan alih teknologi dari penyedia teknologi ke industri diperlukan sebuah lembaga TTO yang mempu menjalankan seluruh peran dan fungsi alih teknologi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2019 Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi melaksanakan program pengembangan kelembagaan alih teknologi / TTO.

Maka dari itu, Agus meminta untuk segera dibuat daftar petugas TTO di masing-masing STP. “Yang harus kita atur pertama kali adalah harus ada petugas TTO. Mesti ada lembaga TTO, juga  lembaga inkubasi bisnis “, lanjutnya.

Program TTO dilaksanakan dengan memberikan fasilitasi pengembangan kelembagaan kepada 7 (tujuh) lembaga yang telah menjalankan fungsi TTO dan berada dalam KST. Hal ini dimaksudkan selain mengembangan kelembagaan TTO juga untuk mendukung proses alih teknologi di dalam Kawasan Sains dan Teknologi.  Secara fungsi di beberapa lembaga riset maupun perguruan tinggi yang telah melakukan penelitian terapan sudah menjalankan peran dari TTO. Akan tetapi secara kelembagaan belum ada lembaga TTO.

Kegiatan yang dilakukan oleh TTO dalam alih teknologi mulai dari pengungkapan teknologi hasil invensi peneliti, valuasi teknologi invensi, pengelolaan kekayaan intelektual / paten, dan komersialisasi teknologi yang telah memiliki paten melalui lisensi, perusahaan spin-off dan perusahaan pemula berbasis teknologi (start-up).

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman kesuksesan dari lembaga penerima fasilitasi dalam menjalankan proses alih teknologi ke industri. Peserta pada kegiatan ini berasal dari lembaga yang telah menerima fasilitasi, Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Pada kesempatan ini ada 3 (tiga) lembaga dan 3 (industri) yang akan menyampaikan pengalaman proses alih teknologi, yaitu Universitas Gadjah Mada dengan PT. Gama Multi Usaha Mandiri, Institut Pertanian Bogor dengan PT. Martha Tilaar Group dan Institut Teknologi Bandung dengan PT. Pupuk Kujang.

Diharapkan setelah kegiatan knowledge sharing alih teknologi dilaksanakan, para peserta dapat mengambil pembelajaran yang nantinya bisa digunakan ketika melaksanakan alih teknologi di masing-masing lembaga. Pengembangan kelembagaan alih teknologi/TTO kedepan untuk menjadikan lembaga yang berkualitas dalam proses hilirisasi/komersialisasi hasil riset, maka harus didukung juga oleh pengelola yang memenuhi standar internasional dalam proses alih teknologi.

Oleh karena itu, direncanakan selain menguatkan tata kelola lembaga alih teknologi/TTO juga meningkatkan kapasitas SDM pengelola dengan melaksanakan pelatihan bersertifikat internasional sehingga di masing-masing lembaga alih teknologi/TTO memiliki personil bersertifikat RTTP (Registered Technology Transfer Professional). Selain itu juga diperlukan pengembangan sebuah sistem Big Data Analitik guna mendukung proses alih teknologi.

Reportase Kahfi/Foto Bagus