JAKARTA- Dalam rangka memperkuat sinergi dan koordinasi antara lembaga litbang dengan lembaga litbang lainnya serta instansi pendukung litbang, Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti menyelenggarakan Rapat Koordinasi Persiapan Monitoring Evaluasi Pusat Unggulan Iptek (PUI) Tahun 2019 sekaligus Silaturahmi Nasional Lembaga Litbang Indonesia Tahun 2019, berlangsung di Ruang Auditorium Lantai 2, Gedung D Kemenristekdikti, Selasa (1/10).

Kegiatan ini dihadiri oleh Menristekdikti Mohamad Nasir bersama Sekretaris Jenderal Ainun Na’im, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati, Direktur Lembaga Litbang Kemal Prihatman, 137 Lembaga PUI Litbang dan PUI Perguruan Tinggi, Badan Litbang Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), LPPM dari Instansi Induk PUI Perguruan Tinggi,  danTim Pakar Pusat Unggulan Iptek.

Dalam laporannya Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo mengatakan bahwa Silaturahmi Nasional bertujuan untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar instansi litbang dan instansi pendukung litbang. Selain itu juga untuk meningkatkan fokus arah lembaga litbang terkait rencana dan arah tindak lanjut kedepannya.

Program Pengembangan PUI yang telah dilaksanakan sejak tahun 2010 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan litbang sebagai PUI yang mampu menyerap kebutuhan pengguna/market dan sekaligus menghasilkan dan mengalirkan produk atau hasil teknologi ke penggunanya, serta menjadikan Lembaga Unggul yang berpotensi dikembangkan menjadi lembaga Science Techno Park.

“Beberapa kriteria dari PUI unggulan syarat-syaratnya adalah, yang pertama, paling tidak ada satu hasil penelitian yang berhasil dihilirkan, yang kedua; ada publikasi internasional, dan ketiga; ada undangan di forum-forum internasional”, terang Patdono.

Program PUI ini juga telah mampu menciptakan iklim kompetisi positif bagi lembaga-lembaga litbang untuk meningkatkan produktivitasnya yang pada akhirnya dapat memberikan dampak positif pada aspek academic excellence, economic benefit, dan social impact.

“Kita harapkan bahwa PUI yang produknya sudah berhasil dihilirkan ini akan membentuk pengusaha pemula berbasis teknologi atau startup company ini pada gilirannya akan merekrut pegawai-pegawai dari masyarakat setempa,” ujar Patdono.

Menristekdikti Mohamad Nasir banyak memuji perkembangan positif dari PUI. “Kalau 2019 ini, sudah melampaui target kementerian, kami itu targetnya hanya 50 tapi sudah 137 PUI, luar biasa,” katanya.  Hingga akhir tahun 2019, Indonesia telah memiliki 81 PUI utama di berbagai bidang. 81 PUI tersebut merupakan hasil pembinaan Kemenristekdikti. Ada 137 Lembaga PUI yang berasal dari 52 Lembaga Pemerintah Kementerian (LPK), 50 Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), 28 Perguruan Tinggi dan 7 Badan Usaha.

“Saya sangat berterima kasih karena dari 137 menjadi 81 yang sudah mature, ini yang luar biasa. Mudah-mudahan ini berkembang. Kalau mereka bisa berkembang dan menghasilkan setidaknya 1 sampai 5 produk, maka saya minta Dirjen Kelembagaan IPTEK dan Dikti untuk memberikan penghargaan kepada PUI-PUI tersebut menjadi STP (Science Techno Park)”, ujar Menteri Nasir.

Lebih lanjut Nasir mengatakan bahwa riset harus bisa dihilirisasi secara langsung ke industri atau difasilitasi ke industri melalui mediasi pemerintah. Selain itu, penelitinya pun tidak boleh cukup hanya meneliti di dasarnya saja, tetapi harus ditingkatkan pada riset terapan atau riset pengembangan agar kedepannya riset dapat menambah jumlah inovasi kita yang masih sangat kecil.

Nasir menambahkan, produk inovasi PUI sampai saat ini sudah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satu produk tersebut adalah Lampu LED untuk menarik perhatian ikan saat nelayan melaut di malam hari.

“Nelayan Jepara sudah merasakan manfaat dari inovasi Lampu LED ini, hasil tangkapan meningkat 25 persen. Dengan teknologi, jangan nelayan yang mencari ikan tapi nelayan mengambil ikan,” terang Menteri Nasir.

Reporter/Foro: Kahfi