DENPASAR – Dalam lima tahun ke depan Kemeristekdikti akan fokus membangun Science Techo Park (STP) dengan target empat STP level utama dan satu STP internasional. Target tersebut merupakan hasil evaluasi Bappenas dan Kemenristekdikti karena target STP yang direncanakan pada periode 2015-2019, yaitu membangun 100 STP sangat tidak realistis. Di negara lain, seperti Korea Selatan untuk membangun STP mature membutuhkan waktu 35 tahun dan di Swedia 28 tahun.

Rencana untuk membangun STP ke depan tersebut dikemukakan oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo saat membuka  seminar pengembangan STP dengan tema “Good Practices in Management & Sustainability of  STP Development ” di Hotel Aston Denpasar Bali (27/08). Dalam seminar ini Patdono menjelaskan bahwa untuk membangun STP itu tidak mudah dan biaya yang diperlukan sangat besar karena membutuhkan infrastruktur yang bagus, disisi lain kondisi keuangan Pemerintah sangat terbatas.

Tidak mudah, karena menurut Patdono, salah satu ciri keberhasilan STP adalah di dalam STP tersebut terdapat anchor industry (industri besar) yang beroperasi, kemudian anchor industry akan menarik perusahaan-perusahaan untuk melakukan penelitian, lalu penelitian itu akan di bawa ke STP, termasuk dengan perguruan tinggi yang ada di sekitar STP tersebut.

STP yang memiliki anchor industry ini, tambah Patdono, sangat kita butuhkan saat akan di jadikan start– up company yang memerlukan kerja sama dengan industri yang sudah mempunyai pengalaman dalam memproduksi masal atau memasarkan produk. Dan saat ini di Indonesia belum ada STP yang mempunyai anchor industry yang besar sehingga kemampuan untuk mencetak pengusaha pemula berbasis teknologi atau start up company itu belum bisa.

“Saat ini level STP yang dipunyai Indonesia baru mencapai level madya, belum level utama dan cara pemerintah untuk mendapatkan empat STP level utama dan satu STP yang mencapai internasional dalam target 5 tahun ke depan adalah untuk STP yang sudah mencapai level madya akan di dampingi, di minta untuk di perbaiki dan setelah itu akan di assessment  lagi maturity levelnya,” jelas Patdono lebih lanjut.

Seminar diselenggarakan dalam rangkaian Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke 24. Pelaksana tugas Direktur Kawasan Sains dan Teknologi Kemal Prihatman, mengatakan seminar ini diadakan untuk melakukan sharing praktek-praktek terbaik, baik itu untuk pengelolaan maupun bagaimana melakukan kolaborasi serta memperluas jejaring dan kerja sama antar stakeholder untuk melaksanakan kegiatan desiminasi, kegiatan riset, kegiatan hilirisasi, kegiatan penciptaan technopreuner yang dilakukan oleh STP.

Pada kesempatan ini juga dilakukan peluncuran sistem informasi online untuk kawasan STP dan laporan kinerja 2015 – 2019. Dalam laporan kinerja disampaikan bahwa selama empat tahun sudah di bangun sekitar 45 STP, khususnya ada 18 STP yang di koordinasikan oleh kemenristekdikti.  Pembangunan ini melibatkan sekitar 54 pakar sebagai pendamping agar STP bisa melakukan operasi atau pengembangan sehingga bisa menghasilkan suatu yang diharapkan sesuai dengan target-target yang  ada.

Selama tahun 2019 telah pula dilaksanakan kegiatan pelaksanaan tata kelola STP dalam berbagai workshop dan hasilnya cukup menggembirakan. Selain itu, telah diikutsertakan lima STP pada kegiatan Indonesian Inovation Day 2019 di Jerman dengan menghasilkan sebanyak lima perjanjian kerja sama dengan negara lain.

Reportase/Foto Bagus- Redaksi/Editor Sakasuti