DENPASAR – Perguruan tinggi dan inkubator bisnis yang dibina Kemenristekdikti diyakini mampu mewujudkan target Pemerintahan Joko Widodo untuk menghasilkan 3.500 pengusaha baru berbasis teknologi (technopreneur)  pada kurun waktu 2020 hingga 2024.

Pelaksana tugas Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengatakan saat ini Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta lembaga inkubator bisnis yang ada di Indonesia dapat menghasilkan  3.500 technopreneur untuk tahun 2020-2024 mendatang.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Patdono pada saat membuka kegiatan Forum Inkubator Bisnis Teknologi (IBT) di Denpasar, Bali, Senin (26/8). Kegiatan ini menjadi salah satu dari rangkaian dari Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-24.

Technopreneur  merupakan suatu peluang usaha yang memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Kondisi ini pun mendorong industri menggunakan sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi yang kompeten dan memiliki jiwa wirausaha.

Menurut Patdono salah satu pertumbuhan ekonomi itu bersumber pada munculnya start-up yang banyak. Untuk di Indonesia, sebetulnya, karena kekayaan alam kita itu yang begitu berlimpah maka banyak potensi-potensi yang bisa dikembangkan untuk bisa menghasilkan banyak technopreneur,” katanya.

Patdono menambahkan bahwa keberadaan start-up company dapat dihasilkan melalui suatu lembaga yang dinamakan inkubator bisnis ini. Untuk itu, ia mengaku membutuhkan banyak inkubator bisnis yang berkualitas dalam mencetak start-up company ini.

Saat ini jumlah inkubator di Indonesia yaitu sebanyak 120 – 30 inkubator bisnis, yang nantinya akan menjalankan tugas untuk menghasilkan 700 start-up setiap tahunnya.

“Dalam menghasilkan start-up company tersebut, tentu dipengaruhi oleh unsur kuantitas dan kualitas. Untuk itu, di dalam pengelolaan inkubator ini tidak hanya soal jumlah inkubator namun juga kualitas Inkubator yang didirikan,” ujar Patdono.

Pembicara dari China dan Australia

Forum Inkubator tahun 2019 di Bali ini berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelunya para inkubator disuguhi pembicara dari dalam negeri, tahun ini Kemenristekdikti mendatangkan ahli inkubator luar negeri, yaitu dari China dan Australia serta beberapa negara lain guna sharing informasi.

“Forum ini juga bisa digunakan sebagai ajang pembangunan  jaringan antara inkubator dari negara-negara lain dengan inkubator yang ada di Indonesia, baik berupa berbagi pengalaman untuk menghasilkan start up company sesuai target tiap tahun sebanyak 700,” lanjut Patdono.

Ia menjelaskan, pengembangan Inkubator di Indonesia tidak hanya ada di bawah Kemenristekdikti tetapi juga ada dari kementerian lain, dan ada juga dari lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK). Dengan tersebarnya inkubator yang mempunyai keahlian pada bidang-bidang yang lebih spesifik, diharapkan dapat memenuhi target start-up company, yaitu setiap tahun sejumlah 700 itu.

Forum IBT ini bertujuan untuk lebih mengoptimalkan pengetahuan, sharing dan networking terkait pengembangan inkubator di Indonesia. Selain itu, melalui forum ini para wakil inkubator yang hadir dapat membangun sinergi dan koordinasi dengan instansi/kementerian/lembaga serta stakeholders yang berhubungan dengan inkubator bisnis teknologi di Indonesia.

Stakeholders yang hadir pada Forum IBT ini di antaranya Asosiasi Inkubator Indonesia (AIBI), Incubie STP IPB, CREEDA Australia, dan World Intelegent Incubation Network China dan stakeholders lainnya yang berperan dalam pengembangan Inkubator di Indonesia.

Dengan target dari Bappenas untuk menghasilkan 3.500 technopreneur (2020 – 2024) tersebut, Patdono mengimbau peserta dapat belajar dari cara-cara yang diterapkan di luar negeri. Salah satu program yang dilakukan dalam mengembangkan inkubator ini adalah dengan cara belajar dari Inkubator negara asing. Salah satunya dengan mengadopsi inkubator dari Taiwan, Armenia, Finlandia, China, dan Australia.

Penulis Tim NC/Foto Bagus/Redaktur Sakasuti