DEPOK – Generasi milenial menginginkan adanya keterbukaan, menerima perbedaan dan melibatkan anak buah dalam membuat perencanaan maupun melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian, kepemimpinan milenial harus mampu menciptakan suasana ketertiban, menerima perbedaan yang ada dan memaksimalkan keterlibatan anak buahnya.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo ketika diminta memberikan kuliah umum dengan judul “Kepemimpinan di Era Milenial,” di Auditorium Kampus F8 Universitas Gunadarma, Depok (30/7). Patdono didampingi oleh Rektor Universitas Gunadarma Eko Sri Margianti. Kuliah umum ini dihadiri para mahasiswa dari berbagai jurusan di Universitas Gunadarma.

Dalam kuliah umumnya itu, Patdono memaparkan perkembangan beberapa model kepemimpinan yang bisa dipelajari oleh para mahasiswa. Pertama, adalah pemimpin otokratik, yaitu model pemimpin yang sama sekali tidak memperhitungkan atau tidak menganggap anak buahnya. Kedua, pemimpin birokratik, yaitu pemimpin yang menjalankan kepemimpinan berdasarkan struktur organisasi dan SOP yang ada di organisasi tersebut.

Model kepemimpinan ketiga, menurut Patdono adalah pemimpin demokratik, yaitu pemimpin yang sangat mendengar masukan-masukan dari anak buahnya, dan model keempat adalah pemimpin model laissez faire, yaitu model kepemimpinan menghendaki semua komponen menjalankan tugasnya dengan bebas.

Selain empat model kepemimpinan di atas, Patdono juga menjelaskan perkembangan model kepemimpinan terbaru, yaitu model kepemimpinan transaksional dan transformasional. Menurutnya, model kepemimpinan transaksional itu adalah kepemimpinan yang memotivasi anak buahnya dengan minat-minat pribadinya.

Sementara apa yang disebut dengan kepemimpinan transformasional adalah kemampuan seorang pemimpin dalam bekerja dengan dan atau melalui orang lain untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target capaian yang telah ditetapkan.

Pada kesempatan tersebut Patdono mengajak generasi muda milenial untuk dapat memahami karakter diri masing-masing, sehingga  bisa mengetahui model kepemimpinan yang harus diterapkan pada diri sendiri. Hal ini nanti akan lebih mudah bagi milineal untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah. Selain itu, para milenial bisa mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin yang hebat di masa yang akan datang.

Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti ini juga mengingatkan bahwa pemimpin harus bisa menempatkan diri kapan melakukan fungsi kepemimpinannya dan kapan fokus membina hubungan yang baik dengan para anggotanya (kolaboratif).

Patdono berharap kuliah umum yang diberikannya ini dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta semangat dalam mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. “Mudah-mudahan sharing ini bisa memberikan bekal untuk menjalankan kepemimpinan di tempat kerja saudara-saudari nanti,” tutup Patdono.

Dalam kesempatan ini Dirjen juga memberikan apresiasi atas pemenuhan Universitas Gunadarma terhadap standar nasional pendidikan tinggi yang sudah dilaksanakan dengan sangat baik sebagaimana data-data yang dilaporkan ke PDDIKTI. Diharapkan 5-10 tahun lagi Universitas Gunadarma tidak hanya menjadi perguruan tinggi yang berkibar di dalam negeri tetapi juga menjadi perguruan tinggi Indonesia yang dikenal di luar negeri.

Reportasi/Penulis/Foto: Kahfi – Editor: Sakasuti