JAKARTA – Salah satu syarat dalam mewujudkan lulusan politeknik atau pendidikan tinggi vokasi yang link and match dengan kebutuhan industri adalah melakukan program magang industri. Melalui program ini mahasiswa terjun langsung di industri untuk menerapkan teori/ilmu yang telah diperoleh dilingkungan pendidikan.

Program ini sangat positif karena mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja yang nyata di dunia industri, mendapatkan sertifikat kompetensi dan/atau sertifikat industri. Begitu selesai, lulusan langsung dapat pekerjaan. Di sisi lain, magang industri melalui kerjasama antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dan industri merupakan syarat dari suksesnya pendidikan tinggi vokasi atau politeknik.

Demikian inti perbincangan acara talkshow Ngobrol Pintar (NGOPI) di Kompas TV Jakarta dalam rangka sosialisasi upaya pemerintah melakukan revitalisasi pendidikan tinggi vokasi pada Senin (9/7) dengan narasumber Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwinjo bersama dengan Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J Supit dan Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Zainal Arief.

Program magang industri ini merupakan bentuk dari keseriusan kementerian dalam mencetak SDM yang handal. Program magang industri diharapkan menjadi langkah strategi meningkatkan kualitas lulusan politeknik atau pendidikan tinggi vokasi. Untuk itu Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Keputusan Menteri Nomor 123/M/KPT/2019 telah menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan magang industri ini.

Dalam ketentuan tersebut antara lain dikatakan program magang kuliah di industri dihargai dalam bentuk satuan kredit semester (SKS). Kuliah magang dilakukan minimal selama satu bulan atau lima hari kerja per minggu selama delapan jam per hari. Waktu magang itu setara 1 SKS atau selama 2.720 menit magang atau 45 jam.

Patdono mengatakan bahwa tujuan magang industri adalah untuk menghasilkan tenaga terampil atau untuk mendukung pencapaian dari kompetensi yang akan dihasilkan. Ke depan, menurutnya, industri dalam merekrut tenaga kerja lulusan politeknik tidak melihat ijazahnya namun harus memiliki sertifikat kompetensi.

Magang untuk mempraktekan teori yang didapat di perguruan tinggi sehingga pada saat dia lulus tidak hanya teorinya saja tapi juga prakteknya, karena industri lebih membutuhkan kemampuan praktek dari pada teori.

Program magang industri ini menerapkan kurikulum dual system, yaitu sebagian dihabiskan di perguruan tinggi dan sebagian lagi di industri melalui proses magang. Kurikulum dual system merupakan adaptasi dari kurikulum pendidikan vokasi di Jerman.

“Dari adaptasi itu Pemerintah telah membuat kurikulum 3-2-1. Dari 6 semester Diploma III dibagi menjadi: 3 semester dilaksanakan di perguruan tinggi termasuk praktikum di laboratorium, 2 semester magang, dan 1 semester lagi bisa magang atau kembali ke perguruan tinggi untuk menulis laporan dari magangnya,” terang Patdono.

Sementara itu menurut Direktur PENS Zainal Arief lulusan politeknik yang dipimpinnya banyak dibutuhkan oleh tenaga industri dan dia bisa menjamin nilai kompetensi mereka akan diterima oleh industri.  Zainal mengatakan pendidikan di politeknik itu prakteknya lebih besar yakni 70% dan 30% teori, sehingga mereka (lulusan politeknik) punya keterampilan dan kompetensi yang lebih.

Lulusan Politeknik Juga Sarjana

Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Ketenagakerjaan dan Hubungan Industrial Anton J Supit mengatakan antusiasme industri dan perusahaan di Indonesia dalam menyerap tenaga kerja lulusan politeknik sangat besar. Dia mengatakan kalau dulu orang lebih bangga dengan titel sarjana walaupun nanti mencari pekerjaan susah dan bekerja tidak sesuai kompetensi. Kini vokasi menjadi pilihan.

Kenapa pendidikan vokasi ini penting? “Karena vokasi adalah memberikan keterampilan yang paling minimal kepada rakyat agar rakyat bisa bertahan dengan kompetensi yang dia punya. Persaingan ke depan dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, kalau tidak punya kemampuan, maka akan ketinggalan,” katanya.

Anton mengakui memang vokasi di Indonesia masih belum sepopuler di negara maju. “Tetapi jika kita belajar dari pengalaman negara lain terutama Jerman, Jepang, Austria, Swiss, justru vokasi yang menjadi kekuatan atau pilar utama mereka. Oleh karena itu tantangan buat kita adalah bagaimana supaya ini di masyarakat bisa menerima,” lanjut Anton.

Senada dengan Anton, Zainal Arief juga mengatakan tidak sepenuhnya benar jika saat ini ada pendapat yang mengatakan anak muda sekarang lebih memilih jenjang pendidikan akademi dibanding pendidikan vokasi. Alasannya, kini lulusan politeknik selain punya kesempatan menjadi pekerja, juga ada kesempatan untuk studi lanjut, lulusan sarjana terapan  juga punya kesempatan untuk lanjut ke jenjang pasca sarjana terapan.

“Mahasiswa politeknik juga bisa menjadi seorang techno-preneur ataupun entrepreneur karena dalam kurikulum juga ada porsi untuk menjadi seorang wirausaha,” lanjutnya.

Oleh karena itu, “kita ingin sosialisasikan ke masyarakat baik itu ke indsutri ataupun juga ke masyarakat lulusan dari SMK atau SMA bahwa dengan masuk di pendidikan politeknik itu mereka punya keterampilan dan kompetensi yang lebih sehingga banyak dibutuhkan oleh tenaga industri,” pungkasnya.

#ProgramKerja
#PemerintahBekerja
#RevitalisasiVokasi
#PendidikanTinggiBermutu

Jurnalis/Penulis: Kahfi
Redaksi/editor: Rudsnow
Foto: Bagus