JAKARTA – Menghadapi era industri 4.0, Pemerintah kian fokus dalam pengembangan SDM, tak terkecuali bagi mereka yang saat ini sedang mengambil program pendidikan tinggi vokasi atau politeknik.

Salah satu upaya Pemerintah adalah mengembangkan program multi entry multi exit (MEME).  Melalui program MEME ini mahasiswa memiliki berbagai alternatif perkuliahan yang memungkinkan mereka untuk langsung bekerja di industri dengan tetap dapat melanjutkan kuliah.

Program ini  mempermudah proses belajar para mahasiswa yang mengambil pendidikan vokasi atau politeknik.  Mahasiswa yang sudah berkuliah selama dua tahun bisa meninggalkan kampus guna bekerja (tetapi sudah  mengantongi sertifikat kompetensi). Dan setelah bekerja, mereka diperbolehkan lagi untuk melanjutkan kuliah.

Dengan sistem multi entry berarti para mahasiswa/i masuk program studi bisa awal tahun pertama, awal tahun kedua, awal tahun ketiga, atau awal tahun keempat. Begitu pun dengan multi exit yang berarti mahasiswa/i keluar program studi bisa akhir tahun kedua, akhir tahun ketiga, atau akhir tahun keempat, sehingga setiap mahasiswa bisa menyelesaikan tahapan Diploma II, Diploma III atau Diploma IV untuk mendapatkan ijazah yang sesuai.

“Jadi meskipun mahasiswa masuknya program Diploma IV tapi dia bisa memilih lulus di Diploma II, Diploma III atau Diploma IV. Hal ini membuat pendidikan vokasi menjadi fleksibel,” jelas  Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo dalam sosialisasi menegenai MEME ini di Newsline Plus di Metro TV (4/7/2019).

Program MEME merupakan bagian dari program revitalisasi pendidikan tinggi vokasi nasional. Dalam acara talkshow TV itu Patdono didampingi Direktur Politeknik Negeri Batam Priyono Eko Sanyoto dan Direktur APINDO Research Institute Agung Pambudhi, sebagai para narasumber ahli mengenai hal ini.

Selanjutnya Patdono mencontohkan apa yang dimaksud dengan flesibilitas itu. Menurutnya, “kalau mahasiswa masuk Diploma IV tetapi di dalam perjalanannya tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan sampai 4 tahun, mungkin hanya punya biaya hanya sampai 2 tahun, maka mereka juga bisa menghentikan kuliahnya 2 tahun itu tanpa DO dan mengambil sertifikat kompetensi dan mencari pekerjaan dengan sertifikat kompetensi yang dimiliki, maka dia lulus dengan ijazah Diploma II,” jelasnya.

“Dengan ijazah Diploma II ini ketika dia sudah bekerja dan jika ingin melanjutkan pendidikannya dia bisa masuk ke politeknik yang sama atau politeknik yang beda. Tidak dari awal tahun pertama lagi, tapi awal tahun ketiga. Ini salah satu manfaatnya adalah zero drop out,” terang Patdono lebih lanjut.

Selain itu, melalui metode MEME ini maka angka partisipasi kasar (APK)  pendidikan politeknik diharapkan bisa meningkat. Menilai hal ini, Direktur Politeknik Negeri Batam Priyono Eko Sanyoto mengatakan dirinya tahun ini menaikan indeks menjadi 150%. “Karena mahasiswa/i tidak harus lulus Diploma IV tapi Diploma II dan Diploma III bisa keluar, sehingga kebutuhan industri di berbagai level keterampilan ini bisa terserap semua.”

“Dengan adanya MEME, kemungkinan kami menghasilkan lulusan lebih banyak dengan level kompetensi yang lebih banyak, bahkan lebih mudah bagi industri untuk mendapatkan pekerja terampil lulusan di bidang ini, serta level keterampilannya pun sekarang bisa bervariasi, ada DII, DIII dan DIV,” katanya.

Sementara dari sisi industri, Direktur APINDO Research Institute Agung Pambudhi menjelaskan bagaimana posisi-posisi yang diperlukan industri saat ini. Program MEME, menurutnya sangat membantu industri untuk mendapatkan calon tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan.

Adapun sertifikat kompetensi yang telah didapatkan para lulusan vokasi yang merupakan jaminan untuk diterima di industri, menurut Agung ini merupakan tantangan bagi industri.

“Untuk menjawab tantangan ini, kalau di industri dilihat kompetensi per-tingkatan-tingkatannya, maka untuk yang nasional misalnya ada SKKNI untuk tesis pada kompetensi-kompetensi tertentu, sejak di tingkat paling bawah hingga paling atas,” katanya

“Dari situ kita akan bisa ukur, mestinya satu keahlian yang saat ini panjang, bisa “dipenggal-penggal” pada kebutuhan spesifik, artinya spirit program MEME lebih kesana, dan itu sesuai kebutuhan,” jelas Agung lagi.

Sementara itu terkait gaji dan jenjang karir bagi lulusan vokasi, sertifikasi kompetensi menjadi modal dasar pada keterampilan tertentu agar bisa ekuivalen dengan keterampilan tertentu.

Agug menjelaskan bahwa keterampilan tertentu itu kalau di perusahaan ekuivalen dengan pay level tertentu. Contohnya di suatu perusahaan ada level 1 sampai 7 yang di tiap levelnya berbeda syarat. Penilaian level tersebut bisa dilihat dengan sertifikasi dari hasil outlook, dan training atau pendidikan yang benar-benar merupakan satu standard untuk penyesuain pay level atau gajinya. “Perusahaan nanti akan melakukan adjusment dari keterampilan para lulusan. Ketika keterampilan naik, gaji juga akan naik,” sambung Agung

Dari program MEME ini nanti diharapkan bisa melahirkan lulusan-lulusan yang terampil di berbagai bidang. Selain itu sinergi antara politeknik dengan industri diharapkan semakin baik juga sehingga penyerapan tenaga kerja dari lulusan vokasi sesuai dengan ekspektasi dari industri.

#ProgramKerja
#PengembanganSDM
#RevitalisasiVokasi
#PendidikanTinggiBermutu

Jurnalis/Penulis: Kahfi
Redaksi/editor: Rudsnow
Foto: Bagus