JAKARTA – Fokus pemerintah untuk menunjang perkembangan  industri maupun menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan menggalakkan program revitalisasi vokasi nasional sehingga bisa menurunkan tingkat pengangguran di Indonesia, juga bisa mencetak SDM yang mampu bersaing secara global di era industri 4.0.

Sosialisasi program revitalisasi vokasi nasional ini pun terus dilakukan oleh Kemenristekdikti melalui berbagai media. Seperti dengan hadir di program acara talkshow Selamat Pagi Indonesia Plus di Metro TV pada Senin 1/7/2019 lalu.

Dalam program TV tersebut, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo bersama dengan Bidang Ahli Pelatihan Ketenagakerjaan KADIN Bob Azzam dan Tenaga Ahli Menteri Perindustrian Bidang Pendidikan Vokasi Mujiyono membahas serius hal ini.

Patdono menjelaskan beberapa tujuan pelaksanaan kegiatan revitalisasi yang sudah berjalan sejak tahun 2017 sampai dengan 2019 sekarang. Di antaranya adalah meningkatkan relevansi pendidikan politeknik dengan kebutuhan industri pengguna lulusannya, mendorong keunggulan spesifik di masing-masing politeknik sesuai potensi daerahnya, mengkinikan metode pembelajaran, keperluan pembelajaran, dan pemberian sertifikat kompetensi di samping pemberian ijazah/diploma.

Tujuan lainnya adalah meningkatkan nilai tawar untuk bekerjasama dengan industri dan institusi sejenis dari negara maju, serta meningkatkan efisiensi sistem pembelajaran dengan memanfaatkan materi latihan menjadi produk bernilai ekonomis (teaching industry).

Patdono menekankan pentingnya arti sertifikasi kompetensi. Sertifikat kompetensi, menurutnya, harus lebih diutamakan dibanding ijazah untuk mahasiswa politeknik. Hal ini harus dipahami setiap industri. “Sehingga ada link and match antara kebutuhan di lapangan dan perguruan tinggi. Mahasiswa tidak boleh wisuda sebelum mendapat sertifikat kompetensi,” terang Patdono.

Revitalisasi Sejak Tahun 2017

Seperti di ketahui bahwa sejak tahun 2017, Kemenristekdikti telah mengimplementasikan program revitalisasi vokasi nasional di 12 politeknik yang kemudian keduabelas politeknik tersebut disebut sebagai pilot project dalam penyesuaian kurikulum dual system dan teaching factory.

Pemilihan daftar ploiteknik pilot project ini, menurut Patdono  berdasarkan pada penyebaran tanggung jawab daerah, potensi dan tantangan daerah, basis kompetensi yang merata, kemampuan politeknik untuk direvitalisasi dan kondisi khusus di mana industri utama berada.

Keduabelas politeknik yang ditugaskan ini diharapkan menjadi rujukan dalam pengembangan sistem pendidikan tinggi vokasi yang bermitra dengan dunia usaha dan dunia industri.

Patdono menyebut bahwa Kemenristekdikti sudah membuat rencana-rencana bagaimana menciptakan sistem pendidikan tinggi vokasi agar lulusan vokasi tidak hanya diakui di Indonesia namun juga diakui di negara-negara lain.

Sedangkan berkaitan dengan kurikulum, Tenaga Ahli Menteri Perindustrian Bidang Pendidikan Vokasi Mujiono mengatakan, bahwa saat ini kurikulum di perguruan tinggi sudah menyesuaikan dengan perusahaan industri.

Namun, menurutnya, “industri juga harus membina politeknik agar link and match antara kedua belah pihak seperti penyesuaian kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan pasar dan industri serta tepat sasaran,” jelasnya.

Mujiono juga mengatakan Pemerintah akan membangun politeknik di setiap kawasan industri, dan juga mendorong perusahaan-perusahaan industri untuk membangun politeknik.

Menghilangkan Keraguan

Bob Azzam dari KADIN Bidang Pelatihan Ketenagakerjaan berharap anak muda yang bertalenta mau masuk ke politeknik karena selama ini vokasi dianggap sebagai pendidikan kelas II. Jika revitalisasi ini dijalankan makabenar-benar dapat menjawab keraguan masyarakat apakah selepas lulus langsung dapat kerja atau tidak.

“Bagaimana agar yang bertalenta itu mau masuk politeknik agar bisa mendompleng perusahaan dengan skill mereka. Skill setiap anak harus diolah sejak sekolah dasar tidak dari SMA/SMK agar benar-benar matang pada bidang keahliannya,” jelas Bob Azzam.

#ProgramKerja
#PemerintahBekerja
#RevitalisasiVokasi
#PendidikanTinggiBermutu

Reporter : Kahfi
Foto : Bagus
Redaksi :  Sakasuti