TANGERANG SELATAN- Kemenristekdikti mendorong perguruan tinggi negeri maupun swasta yang sudah bagus akreditasinya untuk dapat menyelenggarakan online learning di Indonesia, disamping pembelajaran tatap muka sebagaimana yang sudah berlangsung.

Demikian harapan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo saat menyampaikan sambutan pengantar dalam Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Institut Pendidikan Siber Indonesia di UT Convention Center Universitas Terbuka, Selasa  12 Maret 2019.

Dalam FGD ini hadir antara lain Inspektur Jenderal Kemenristekdikti Jamal Wiwoho, Staf Ahli Kemenristekdikti Bidang Akademik Paulina Pannen, Rektor Universitas Terbuka Ojat Darojat, Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Kafi Heriyanto, Direktur Politeknik Statistika STIS Erni Tri Astuti, dan Faizal Safa Wakil Ketua Kadin Komtap Perencanaan Strategis dan Pemberdayaan Industri Energi dan Migas

Harapan dan dorongan yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti tersebut  terkait dengan pemberlakuan sistem pendidikan siber di Indonesia dalam usaha menggenjot proses industrialisasi menuju era 4.0.

“Kita targetkan tahun ajaran baru 2019 – 2020 sudah banyak prodi online yang diselenggarakan secara massif dan dengan mutu yang bagus.  Ini diperkirakan memakan waktu yang lama karena kita ingin memastikan bahwa online learning yang dilaksanakan ini mutunya bagus. Semoga online learning ini tidak hanya untuk meningkatkan APK tetapi juga bisa menyelenggarakan sistem pendidikan yang lebih efisien dan berkualitas,“  katanya lebih lanjut.

 Sementara itu dari kalangan industri berharap agar Kemenristekdikti dan lembaga pendidikan tinggi di Indonesia dapat mempercepat pemberlakukan sistem pendidikan siber tersebut. Harapan ini disampaikan Faizal Safa Wakil Ketua Kadin  Komtap Perencanaan Strategis dan Pemberdayaan Industri Energi dan Migas.

Faizal Safa menjelaskan, Indonesia dan negara maju lainnya  sedang berproses menuju industrialisasi 4.0, dimana  proses industri akan digantikan dengan era digital dan serba online. Untuk menuju kesana, pelaku industri tentu sangat berharap ada sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kemampuan di bidang itu, dan hanya perguruan tinggi yang handal yang akan menghasilkan SDM yang dibutuhkan tersebut.

“Kami berharap, ini tidak hanya berhenti dalam FGD,  tapi secepatnya diimplementasikan. Termasuk kami ingin segera di realisasikan fiskal yang diberikan kepada industri mendekati dua ratus persen apabila industri memberikan instrumen dalam proses pembelajaran.  Untuk diketahui, kita bisa memberikan peran yang lebih karena kami butuh sekali link dengan perguruan tinggi karena perguruan tinggi menjadi backbone daripada inovasi industri kita ke depannya,“ katanya.

Adapun tujuan dari FGD ini adalah bermaksud memperoleh masukan konstruktif terkait peta jalan pembelajaran daring dan pendidikan jarak jauh dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia, dari perspektif penyedia layanan teknologi cloud, block chain dan start-up technology.

Staf Ahli Kemenristekdikti bidang Akademik Paulina Pannen  mengharapkan Institute Pendidikan Siber Indonesia ini bisa berkembang menjadi satu institusi yang mempunyai layanan yang cukup banyak di masa depan. “Kita sudah banyak mendapatkan banyak masukan, yang kita harapkan menjadi road map pengembangan lembaga ini kedepannya,’’ jelasnya.

#ProgramKerja #PemerintahBekerja #CerdaskanAnakBangsa #PendidikanTinggiBermutu #PendidikanTinggiUntukSemua

Reportase/foto/video: Rio/Cahyo

Redaksi: Sakasuti/Cahyo