Perkembangan Pembelajaran Online Tidak Seperti Perkiraan Christensen

Petra

SURABAYA – Program studi melalui online and distant learning (pembelajaran online) yang digagas Clayton Christensen masih banyak menghadapi hambatannya. Ada kemungkinan online learning ini sulit berkembang untuk dapat menyaingi pendidikan tatap muka.

Hal tersebut dikemukakan oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo saat menutup Asian University Presidents Forum (AUPF) 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Kristen Petra di Hotel Sheraton Surabaya, pada Kamis 8 November 2018.

Dalam bukunya “The Innovative University in 2012,” Christensen  mengatakan bahwa  pada masa mendatang pembelajaran online akan menggantikan model bisnis pendidikan tinggi. Ia juga memprediksi bahwa dalam 10 hingga 15 tahun sebanyak setengah dari universitas di Amerika akan tutup atau bangkrut.

Namun ternyata prediksi si penggagas “disruptive innovation theori” tersebut hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tandanya di Amerika Serikat. Begitu juga dibelahan dunia lain, seperti pengalaman Indonesia dan Australia – sebagaimana dikemukakan Patdono –  trend online learning tetap masih lebih rendah dibandingkan dengan pendidikan tatap muka.

Selain itu, online learning ternyata berbiaya mahal. “Ketika saya mengunjungi beberapa universitas di Australia yang menyediakan online learning, ternyata biayanya lebih mahal ketimbang pembelajaran tatap muka,” ujar Direktur Jenderal.

Kenapa online lebih mahal, pertama, karena jumlah mahasiswa di Australia yang ikut online learning tidak mencapai economic of scale. Yang kedua, mahal investasi di infrastrukturnya. Ketiga, mahal untuk investasi materi pembelajarannya, dan yang terakhir mahal untuk biaya pelatihan dosennya.

Namun dalam AUPF 2018 itu Patdono tetap mempersilahkan universitas  yang ingin mengembangkan online learning ini, dan ia tetap mendukung perguruan tinggi di Indonesia mengembangkan sistem pembelajaran tersebut.  Tetapi  ia juga mengingatkan agar universitas  tetap berusaha menekan biaya investasi dan operasionalnya.

Untuk itu Patdono menganjurkan agar antar uninersitas dapat melakukan kolaborasi. “Perlu bagi kita di antara universitas-universitas di Asia untuk berkolaborasi dalam menyiapkan dan melaksanakan online learning, agar biayanya dapat berkurang dan kualitasnya meningkat,” himbau Patdono.

AUPF 2018 di Surabaya adalah acara yang ke-17,  yang berlangsung selama 3 hari ini mengambil topik “Disruption at The Cross Roads: Innovative Enggagement and Future Challenges for Higher Education.” Hadir di acara tersebut 62 perguruan tinggi di Asia dan 122 rektor maupun perwakilan rektor yang membahas dan menandatangani memorandum of understanding terkait online learning maupun bidang lainnya.

Beberapa perguruan tinggi dari Indonesia yang hadir, antara lain Universitas Kristen Petra, Universitas Telkom, Universitas Katolik Sanata Dharma,  Universitas Islam Sultan Agung, Universitas Sumatera Utara dan Politeknik Negeri Ambon.

tom/sakasuti

Share this: