Retooling Dosen Vokasi Ke Luar Negeri Pertimbangkan Aspek Kualitas dan Biaya

kanada

JAKARTA – Kemenristekdikti melakukan proses terbuka untuk setiap negara maju yang ingin berpartisipasi dalam penyelenggaraan pelatihan atau reetoling bagi dosen-dosen vokasi Indonesia. Dalam menentukan tempat reetoling, Kemenristekdikti mempertimbangkan aspek kualitas dan biaya.

“Pada dasarnya kita buka bidding untuk semua penyelenggara pelatihan yang ingin ikut dalam program retooling dan revitalisasi pendidikan vokasi ini. Kami akan evaluasi proposalnya dan mengunjungi kantor penyelenggaranya, serta memeriksa apakah penyelenggara cukup baik dalam melakukan pelatihan.”

Demikian inti yang disampaikan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwigjo pada acara “Technical, Vocational Education, and Training Forum” yang diselenggrakan oleh Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia, Selasa, 23 Oktober 2018, di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Duta Besar Kanada untuk Indonesia Peter MacArthur mengundang pihak Kemenristekdikti untuk melihat potensi kelanjutan kerja sama dalam program revitalisasi pendidikan vokasi Indonesia. Program pelatihan ke luar negeri tahun 2018 dilaksanakan ke beberapa negara seperti Amerika, Australia, New Zealand, Korea Selatan, Taiwan, Singapore, dan termasuk Kanada.

“Beberapa di antara mereka, sudah dikirim ke Kanada,” ujar Patdono dihadapan sejumlah diplomat dan warga Kanada. ” Tapi kami juga mengirim dosen politeknik ke negara lain termasuk Amerika Serikat dan Korea Selatan. Tahun depan beberapa di antara mereka, akan dikirim ke Australia dan Selandia Baru.”

Patdono menyampaikan secara terbuka perbandingan biaya beberapa negara yang menawarkan reetoling dosen pendidikan vokasi ini. “Jika ada penawaran dari negara lain yang sama kualitasnya, dengan biaya yang lebih terjangkau, pemerintah akan memilih negara lain tersebut,” tegasnya terus terang.

Salah satu yang memiliki penawaran terbaik saat ini, menurut Patdono, adalah Taiwan. Karena selain bagus, biaya pendidikan dibayar oleh Pemerintah dan industri negara tersebut.

“Kami baru saja mengirim 80 mahasiswa dan dalam proses mengirim 320 mahasiswa politeknik untuk hadir ke Two Plus Two Industry ke Taiwan. Two Plus Two ini adalah mahasiswa Diploma di Indonesia setelah selesai belajar, akan melanjutkan pendidikan di Taiwan,” jelasnya.

Dimulai  tahun lalu Kemenristekdikti melaksanakan program pelatihan atau retooling untuk meningkatkan kompetensi dosen pendidikan tinggi vokasi,  yang dilaksanakan dengan bekerja sama dengan  perguruan tinggi maupun industri, di dalam negeri maupun luar negeri.

Pelatihan dan peserta program beasiswa retooling kompetensi dosen vokasi ini dapat diikuti oleh setiap dosen vokasi seluruh Indonesia setelah melalui seleksi. Lamanya waktu pelatihan rata-rata dilaksanakan dalam 10 minggu.

 

rs

Share this: