Habibie: Keberhasilan Pesawat Buatan Indonesia Butuh Ilmu Multidisiplin

hakteknas2

Untuk dapat menghasilkan pesawat buatan Indonesia yang bisa dipakai orang banyak, tidak cukup satu ahli atau satu disiplin ilmu, demikian prinsip yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie, yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia.

“Tidak ada satu produk di ruangan ini yang nilai tambahnya berdasarkan satu disiplin ilmu pengetahuan. Tidak ada! Hanya ada gabungan, kombinasi, dari disiplin ilmu pengetahuan,” ungkap Habibie.

Habibie menyatakan ilmu pengetahuan multidisiplin menjadi kunci keberhasilan Indonesia dapat membuat kapal terbang atau pesawat terbang pertama, yaitu CN-235 Tetuko (nama lain tokoh wayang yang kuat, Gatotkaca).

“23 tahun yang lalu, kami memenuhi janji Indonesia merdeka. Insya Allah, kami janjikan kepada bapak Presiden Soeharto tahun 84. Karena tahun 84 Januari, saya lapor kepada Bapak Presiden, bahwa pesawat terbang rekayasa bangsa Indonesia, bekerja sama dengan Spanyol, namanya Tetuko, telah mengudara Bulan Desember 1983,” ungkap Habibie.

Habibie memberi pidato dalam Pembukaan Kegiatan Ilmiah bertema “Riset, Inovasi Menuju Ekonomi Era Industri 4.0” di Hotel Labersa, Kabupaten Kampar, Riau, pada Kamis, 9 Agustus 2018.

Hadir mendengarkan Menristekdikti Mohamad Nasir, Sekjen Kemenristekdikti Ainun Naim, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo, serta para pejabat Kemenristekdikti lainnya.

Dalam kesempatan itu, Habibie turut bercerita pengalamannya selama berada di Jerman dan ketika mengembangkan pesawat buatan Indonesia di PT Dirgantara Indonesia di hadapan sekitar 200 orang undangan.

Tom/sn

Share this: