Rektor Dituntut Adaptif Terhadap Target Universitasnya

cgfch

Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti) secara resmi menyelesaikan Workshop Kepemimpinan bagi Pemimpin PTN.

Workshop yang sudah dilaksanakan sejak 2017 ini diakhiri pada Minggu, 15 Juli 2018 di salah satu hotel di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Pemerintah berharap rektor dari perguruan tinggi negeri (PTN) yang mendapat pelatihan dapat memimpin sesuai dengan masalah dari perguruan tinggi.

Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Kemenristekdikti  Patdono Suwignjo dalam arahannya mengatakan, “Setiap orang punya preference berbeda-beda terhadap model leadership, tapi leadership yang efektif itu tidak hanya satu jenis. untuk situasi berbeda, dibutuhkan leadership yang berbeda. ini berlaku juga di perguruan tinggi.”

Patdono mengakui bahwa setiap PTN memiliki target yang berbeda dan tidak dapat disamaratakan, terutama dari segi misi dan harapan yang dibebankan pada PTN tersebut. Dia juga menyampaikan bahwa lima besar perguruan tinggi ditargetkan untuk meningkatkan akreditasi internasional, namun PTN baru ditargetkan untuk memastikan institusi dan program studinya terakreditasi A.

“Semua perguruan tinggi di Indonesia mengalami tantangan yang berbeda-beda karena salah satu kondisi perguruan tinggi di Indonesia itu disparitasnya lebar sekali. Ada yang mencapai 277 ranking dunia versi QS, tapi ada yang dosennya tidak ada, kampusnya tidak ada. Maka, kita di dalam membuat strategi Ristekdikti, salah satunya itu menggunakan strategi mission differentiation,” ungkap Patdono.

Terlepas dai misi yang berbeda, Patdono menyampaikan bahwa semua PTN juga memiliki tantangan yang sama, yaitu pada bagaimana mengoptimalkan dan mempertanggungjawabkan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

“Tidak bisa dihindari kalau peraturan pengelolaan keuangan di Indonesia itu, kalau rektor itu termasuk administrator keuangan. Seringkali terjadi rektor yang baru, yang sama sekali tidak pernah tahu mengenai mengelola APBN, kemudian harus mengelola APBN (di perguruan tingginya), yang aturannya sangat ketat, yang penyimpangan sedikit aja, bisa jadi masalah,” ungkap Patdono.

Workshop yang ditujukan kepada PTN Badan Layanan Umum (BLU), PTN Satuan Kerja (Satker), dan PTN Baru, juga yang serupa akan dilaksanakan juga untuk politeknik negeri dan perguruan tinggi swasta.

tom

Share this: