Kemenristekdikti-BAN PT Susun Ulang Instrumen Penilaian Akreditasi Politeknik

2

Program pendidikan vokasi menjadi prioritas pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia untuk meningkatkan mutu tenaga kerja sebagai syarat menjadi negara maju dan berdaya saing tinggi. Untuk itu, Kemenristekdikti terus mendorong peningkatan kualitas politeknik menjadi terakreditasi A.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti Patdono Suwignyo dalam seminar yang digelar Forum Vokasi Akuntansi (FVA) Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik, ? di Aula Gedung G Politeknik Keuangan Negara STAN ? Tangerang Selatan, ? 22? Maret 2018.

Di Indonesia, lanjut Dirjen, terdapat? 111 politeknik negeri dan 149 politeknik swasta. Dari jumlah tersebut, hanya ada tiga politeknik yang terakreditasi A, yakni Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Politeknik Negeri Bandung, dan Politeknik Negeri Semarang. Karena? itu, dia mendorong politeknik lain mengejar akreditasi A agar kualitas lulusannya sesuai dengan kebutuhan pasar industri dan dunia kerja Indonesia.

Kemenristekdikti saat ini melakukan penghentian sementara? pengurusan izin pedirian universitas, namun sebaliknya mendorong lahirnya politeknik. Selain itu, Kemenristekdikti mendorong peningkatan kualitas politeknik agar menyandang akreditasi A.

Menurutnya, saat ini masih sedikit politeknik yang berakreditasi A karena instrumen yang digunakan sama untuk menilai perguruan tinggi. Untuk itu, Kemenristekdikti melalui Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) akan melakukan penyusunan ulang intrumen penilaian akreditasi politeknik.

Selama ini, instrumen penilaian? akreditasi untuk politeknik sama dengan universitas. “Itu sudah tidak relevan karena kurikulum yang diterapkan oleh universitas dan politeknik sangat berbeda. Politeknik menerapkan 30% akademik dan 70% praktik dalam pembelajaran,” ungkapnya.

Patdono menegaskan, pembenahan? kurikulum dan akreditasi? sangat penting untuk meningkatkan kualitas lulusan politeknik. Menurutnya, politeknik harus meluluskan mahasiswa yang siap kerja, bukan hanya siap magang. “Cara pandang masyarakat terhadap politeknik ke depan harus berubah. Selama ini politeknik seolah seperti perguruan tinggi kelas dua. Padahal, lulusan politeknik saat ini sangat berkompeten dan dibutuhkan pasar kerja,” katanya.

Dikemukakan pula, kebutuhan dunia industri menuntut kompetensi lulusan politeknik yang sesuai dengan learning outcome yang ada di politeknik. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah merancang program Multi Entry Multi Outcome (MEMO) bagi mahasiswa politeknik. “Mahasiswa dapat memilih berbagai? alternatif perkuliahan? yang memungkinkan mereka untuk langsung bekerja di industri dengan tetap dapat kembali lagi ke kampus. MEMO diharapkan dapat mempercepat kebutuhan industri dan memutus mata rantai kemiskinan. Jadi. lulusan politeknik? akan selalu siap kerja, bukan siap training.” katanya. (*)

Share this: