Perguruan Tinggi di Indonesia Mampu Bersaing dengan Perguruan Tinggi Asing Selama Memahami Tuntutan Costumer

2121

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) selalu mengingatkan kepada seluruh perguruan tinggi di Indonesia, baik swasta maupun negeri untuk terus berinovasi.

Perguruan tinggi di Indonesia tidak dapat lagi hanya bersaing dengan sesama perguruan tinggi dalam negeri, tetapi juga bersiap bersaing dengan perguruan tinggi asing. Persaingan dengan universitas asing tidak akan pandang bulu.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo saat menyampaikan kebijakan kelembagaan iptek dikti pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenristekdikti 2018 di Universitas Sumatera Utara, Medan, pada Kamis (18/1).

“Dalam waktu dekat, kita tidak bisa membendung lagi perguruan tinggi asing masuk ke Indonesia. Kita sudah menegosiasi dengan pemerintah negara-negara asing, terutama dengan Australia, dimana dia melakukan penekanan supaya pendidikan tinggi? mereka bisa masuk ke Indonesia,” ungkap Patdono.

“Kesimpulannya perguruan tinggi di Indonesia, baik yang besar maupun yang kecil, PTS maupun PTN, kalau tidak menyelenggarakan perubahan yang mendasar terkait disruptive innovation in higher education ini, bisa tutup,” lanjut Patdono.

Dalam menghadapi persaingan ini, lanjut Patdono, pihak Kemenristekdikti optimis perguruan tinggi dalam negeri dapat bersaing, selama perguruan tinggi memahami tuntutan mahasiswa sebagai pelanggan atau customers.

“(Ada istilah) sustaining triathlon, yaitu perjalanan atau roadmap dari perguruan tinggi yang memenangkan persaingan, dimana karena harapan dari customer itu setiap tahun meningkat, tuntutannya semakin tinggi, otomatis perguruan tinggi yang memenangkan persaingan itu harus meningkatkan mutunya.”

Salah satu upaya Kemenristekdikti mendorong perguruan tinggi dalam negeri berinovasi adalah menerbitkan landasan hukum bagi perguruan tinggi? yang ingin mendirikan program jarak jauh (PJJ). Program studi dengan prinsip distant dan online learning ini adalah salah satu opsi agar perguruan tinggi dapat berinovasi.

“Tahun lalu saya mengajak ITB, ITS, kemudian PENS, kemudian Politeknik Mekanik (Polman) ke New Zealand untuk belajar bagaimana distant learning dilakukan pada perguruan tinggi yang sudah 50 tahun menyelenggarakan hal ini,” jelas Patdono.

bgs/tom/rudsnow
foto:ristekdikti.go.id

Share this: