Hadapi Disruptive Innovation, Kemenristekdikti Dorong Kuliah Online dan Akreditasi Internasional

2

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengungkapkan perguruan tinggi di Indonesia harus bersiap menghadapi disruptive innovation di masa depan. Kemenristekdikti mendorong perguruan tinggi untuk membuat kelas online atau dalam jaringan (daring).

“Kita menghadapi disruptive innovation, disruptive technology, kuliah ke depan nanti kita akan giring menuju ke kuliah daring, sistem pembelajaran daring atau SPADA. Karena apa, ini disruptive betul-betul akan terjadi,” ungkap Nasir pada Bedah Kinerja 2017 dan Fokus Kinerja 2018 di Gedung D Kemenristekdikti pada Kamis (4/1).

Disruptive innovation atau disruptive technology adalah gagasan dari Clayton Christensen, seorang ilmuwan administrasi bisnis dari Sekolah Bisnis Harvard. Inti gagasan tersebut adalah teknologi yang penggunaannya secara signifikan berpengaruh pada cara pasar atau industri bekerja.

“Kuliah nanti tidak lagi membutuhkan kelas. Antar negara akan tidak ada batas lagi. Akan ada kelas roomless, borderless, ini akan terjadi,” ungkap Nasir.

Selain membahas mendukung kelas daring, Menristekdikti juga mendorong perguruan tinggi menerapkan standard nasional pendidikan tinggi (SN Dikti). Beberapa perguruan tinggi yang sudah menerapkan SN Dikti didorong untuk menerapkan akreditasi internasional pada program studinya.

“Dari perguruan tinggi yang sudah menerapkan SN Dikti itu kita kembangkan lebih lanjut, dalam kaitan akreditasi, ternyata Indonesia sudah akan masuk di kelas dunia. Di antaranya sudah ada yang masuk di akreditasi tingkat internasional. Yang tertinggi, yaitu Universitas Gadjah Mada, ada 38 prodi,” ungkap Nasir.

Saat ini tercatat ada 17 perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS yang sudah mendapatkan akreditasi internasional, mencakup UGM (38), ITB (28), UI (20), IPB (20), UB (15), Unair (13), ITS (10), UPI (8), Undip (7), UII (5), Unhas (4), Binus (4), UNS (1), Unpad (1), Unila (1), Universitas Telkom (1), dan UMY (1).

“Ini adalah gambaran perguruan tinggi kita harus jadi kelas dunia, tidak cukup jago kandang. Saya harapkan perguruan tinggi Indonesia harus menuju ke sana. Bidang studi apa saja yang sudah masuk di kelas dunia, di antaranya bidang pendidikan, pertanian, bahasa, kedokteran, dan sebagainya. Tapi, yang tertinggi di bidang teknik,” ungkap Nasir yang mempresentasikan langsung paparan kinerja 2017 bersama sekretaris jenderal, para direktur jenderal, dan inspektur jenderal di lingkungan Kemenristekdikti

Kemenristekdikti juga mendorong perguruan tinggi negeri bersaing dengan perguruan tinggi dari negara lain. Saat ini perguruan tinggi Indonesia yang masuk ke kelas 500 dunia masih berjumlah tiga, yaitu Universitas Indonesia (urutan 277), Institut Teknologi Bandung (urutan 331), dan Universitas Gadjah Mada (401).

“Target saya, UGM, UI, ITB ini harus maju lagi. UI paling tidak, saya sudah tawarkan, bisa tidak masuk ke 200 besar. Harus restructuring, dalam hal ini lembaganya. Kemarin sudah konsultasi dengan saya, bisa dilakukan,” ungkap Nasir.

Tom

Share this: