Workshop Kepemimpinan Tahap Dua Fokus Pada Penjaminan Mutu dan Pengelolaan Perguruan Tinggi

11

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mendorong perguruan tinggi negeri (PTN) untuk mengembangkan sistem tata kelola terintegrasi agar dapat mengatasi masalah yang dialami. Salah satunya adalah masalah akreditasi.

Demikian ungkap Direktur Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Tinggi Totok Prasetyo pada pembukaan Workshop Kepemimpinan bagi Pemimpin Perguruan Tinggi Negeri Tahap 2 Tahun 2017, yang dilaksanakan Rabu (22/10) hingga Sabtu (25/10) di Jakarta.

Totok mengharapkan kepada belasan pemimpin PTN yang  mengikut workshop tersebut agar sistem yang ada di perguruan tinggi dapat terintegrasi dengan baik. “Sehingga ada early warning system. Kalau (akreditasi) prodi itu setahun mau habis, sudah ada peringatannya dulu,” katanya.

Totok juga mendorong setiap PTN untuk mencapai akreditasi sesuai target yang ditetapkan PTN tersebut. Kemenristekdikti sendiri sudah menentukan beban untuk setiap PTN sesuai kapasitasnya. “Di Kemenristekdikti, kita sudah plotkan mana yang research university, mana yang teaching university. Beban itu sudah didistribusikan,” lanjut Totok.

Kemenristekdikti  melakukan kegiatan workshop dalam beberapa tahap. Pada tahap pertama, beberapa waktu lalu membahas mengenai arah kekinian atau current trend dari pendidikan tinggi di level global, ASEAN, dan Indonesia. Pemimpin PTN yang hadir mendapat wawasan baru tentang konstruksi baru pendidikan tinggi dan penjaminan mutu, termasuk di dalamnya materi kepemimpinan.

Pada workshop kedua ini berfokus pada penjaminan mutu dan pengelolaan perguruan tinggi (keuangan, sarana prasarana, dan sumber daya manusia). Pada akhir workshop tahap 2 ini, pemimpin PTN mendapat sesi mengelola perubahan di PTN.

Tantangan pada PTN Baru

Pemerintah saat ini telah mendirikan beberapa perguruan tinggi negeri baru, termasuk Universitas Samudra di Kota Langsa (Aceh) dan Politeknik Tanah Laut di Kabupaten Tanah Laut (Kalimantan Selatan). Pemimpin dari kedua PTN tersebut turut hadir mengikuti workshop ini.

“Kalau waktu dulu kita masih swasta, mahasiswa banyak kita terima. Sekarang mahasiswanya kita tahan, karena kita fokus ke mutu,” ungkap Rektor Universitas Samudra (Unsam) Bachtiar Akob di kesempatan yang sama.

Bachtiar mengungkapkan Unsam yang baru dinegerikan pada 2013 ini mengalami masalah sarana dan prasarana dalam meningkatkan mutunya. Dia mengungkapkan Unsam masih belum menyelesaikan semua target pembangunan ruang kelasnya di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum.

Berbeda dengan Unsam yang berfokus pada peningkatan kualitas melalui sarana dan prasarana, Politeknik Tanah Laut (Politala) berfokus pada pembangunan sistem online yang terintegrasi.

“Sistem terintegrasi tidak hanya menunjang proses pembelajaran, semuanya (dapat ditunjang) termasuk kepegawaian. Dengan sistem terintegrasi semua proses bisa diawasi,” ungkap Wakil Direktur II Politala Mufrida Zein.

Mufrida mengungkapkan Politala saat ini masih mengembangkan sistem online terintegrasi dengan belajar pada Politeknik Negeri Surabaya dan Politeknik Negeri Banjarmasin.

Workshop yang kedua ini menghadirkan Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti Ainun Na’im, Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenristekdikti, Kepada Biro Sumber Daya Manusia, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2011-2014 Musliar Kasim, Direktur Politeknik Elektronik Negeri Surabaya Zainal Arief, serta narasumber dari Kementerian Keuangan dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Tom

Share this: