Kemenristekdikti Akan Terus Tingkatkan Kualitas dan Jumlah Perguruan Tinggi Vokasi

IMG_9098

Indonesia saat ini memiliki 4.529 perguruan tinggi, namun hanya 5,4 persen yang berbentuk perguruan tinggi vokasi/politeknik. Dari angka 5,2 persen tersebut, hanya ada satu yang memiliki akreditasi A, mayoritas hanya memiliki akreditas B atau C. Bahkan, masih ada politeknik yang tidak punya akreditasi sama sekali.

Berdasakan kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia tidak hanya berkomitmen untuk meningkatkan kualitas lulusan politeknik dan akademi, tetapi juga berencana meningkatkan jumlah perguruan tinggi vokasi, sehingga lulusannya dapat berkontribusi pada ekonomi Indonesia.

Demikian dikatakan Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo saat membuka Australia – Indonesia ASEAN Symposium pada Rabu (23/8) di Gedung D lantai 2 Kemristekdikti, Senayan, Jakarta.

Dalam simposium tentang kolaborasi perguruan tinggi tersebut, Patdono mengungkapkan kondisi Indonesia dimana jumlah pendidikan vokasi masih sedikit jika dibandingkan kebutuhan industri.? “Kalau negara lain yang memiliki pertumbuhan ekonomi dan industri yang baik mayoritas memiliki paling tidak 50 persen dari seluruh perguruan tingginya adalah perguruan tinggi vokasi,” ujarnya.

Sementara untuk dapat mendekatkan lulusan pendidikan tinggi vokasi dengan dunia kerja, menurut Patdono, Kemenristekdikti memastikan semua ? lulusan politeknik dan akademi mendapatkan sertifikat kompetensi. “Dengan sertifikat kompetensi tersebut, diharapkan mereka tidak memiliki kesulitan dalam mencari pekerjaan,” ujarnya.

Kegiatan Australia – Indonesia ASEAN Symposium ini sendiri menurut Prof. Andrew MacEntyre, ? Vice Chancellor of Global Development sekaligus Vice President di RMIT University sejalan dengan yang dilakukan oleh Kemristekdikti.

Menurut ? Andrew, bidang yang saat ini sedang coba dijajaki Australia juga menyangkut pendidikan vokasional. ? “Di Australia ada pelatihan berbasis kompetensi pada pendidikan tinggi, mereka memiliki cukup pengalaman dan banyak melakukan kolaborasi, yang dapat kembangkan lebih jauh.”

“Begitu juga dalam pengalaman terkait industri, bagaimana integrasi industri ke dalam desain kurikulum dan pengalaman mahasiswa, bagaimana mengintegrasikan pembelajaran, kita dapat kembangkan lebih jauh melalui kesempatan yang ada ini,” ajak Andrew.

tom/bagus/sn

Share this: