Menristekdikti: Proses Pendidikan di Politeknik Harus Melihat Kondisi Lapangan

pangkep

Dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 yang diselenggarakan Makassar, Sulawesi Selatan, Menristekdikdi M Nasir berkesempatan mengunjungi Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (9/8/2017).

Menteri Nasir didampingi oleh Sekjen Kemristekdikti Ainun Naim, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo, Dirjen Belmawa Intan Ahmad dan Wakil Bupati Pangkep serta pejabat Kemristekdikti, Rabu 9 Agustus 2017.

Menristekdikti mengatakan tujuannya melakukan kunjungan ke Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan adalah untuk lebih mengetahui bagaimana proses pengembangan dan peningkatan kualitas lulusan politeknik ini.

“Tujuan kunjungan kami adalah ingin melihat lebih dekat perguruan tinggi yang ada dibawah Kemenristekdikti. Kedepan apa yang harus kami lakukan untuk meningkatkan kualitas lulusan Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan ini,” ujar Nasir

Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan ini dijadikan politeknik unggulan serta sebagai contoh politeknik dibidang pertanian dan perikanan oleh Menristekdikti.

Nasir menekankan proses pendidikan politeknik harus betul-betul melihat dari kondisi lapangan sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berkompetensi. “Harapan saya nanti politeknik yang ada di Pangkep ini tidak hanya mendapatkan ijazah tapi juga harus memiliki sertifikat kompetensi.”

“Oleh karena itu saya sudah meminta kepada direktur harus bekerja sama dengan praktisi atau industri terhadap pengguna lulusan itu. Sehingga begitu lulus industri bisa memanfaatkan mereka dengan baik,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut Menteri Nasir juga mengunjungi laboratorium reproduksi dan genetika ikan, sekaligus menyebarkan benih bibit udang vaname yang menjadi produk unggulan di Sulawesi Selatan. Secara simbolis Nasir menebar 5.000 benih udang vaname pada tambak pendidikan seluas 800 meter persegi.

Nasir juga menanyakan menanyakan PL (ukuran besaran bibit pada udang atau bandeng). Biasanya benih udang ditebar pada tambak jika PL 15 atau 20. Namun politeknik pertanian ini memiliki inovasi dengan umur PL 10 yang masih muda pun bisa di tebar karena tahan terhadap air dan sudah diukur kandungan garam sampai berapa ikan itu bisa hidup.

“Saya sangat senang sekali, dan saya berharap polieknik pertanian ini bisa terus mendampingi pengusaha yang ada di kabupaten pangkep ini hingga dikembangkan di Sulawesi Selatan, kalau bisa seluruh indonesia bagian timur,” himbaunya dengan optimis.

Sementara itu Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo mengatakan mulai tahun 2017, sebanyak 12 politeknik negeri yang direvitalisasi sudah diminta untuk menyusun program revitalisasi dan anggarannya untuk tahun 2017, 2018, 2019.

Menurut Patdono kegiatan yang dirancang itu secara umum ada tiga hal, yang pertama untuk mereview dan merevisi kurikulum, kedua untuk mentraining dosennya, dan yang ketiga untuk membangun laboraturium atau teaching factory.

“Komponen biaya biasanya ada pada pembangunan laboraturium ini juga naik setiap tahunnya, jadi Politeknik Pertanian Pangkep yang sudah mengajukan proposal revitalisasi harus memprioritaskan apa yang harus di bangun,” kata Patdono.

Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan mengatakan kedatangan Menristekdikti Mohamad Nasir di politehnik tersebut menjadi kedatangan pertama  orang nomor satu di lingkungan Kemenristekdikti setelah 30 tahun.

“Tentunya ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi para civitas akademika maupun alumni Poltek Pertanian Negeri Pangkajane dan kepulauan di Kabupaten Pangkep.

 

Menristekdikti juga memberikan beasiswa bidikmisi 2017, kepada mahasiswa mahasiswi berprestasi.

firly/bgs/sn

Share this: