Pengembangan STP Harus Mengarah Pada Rencana Induk Riset Nasional

IMG-20170714-WA0032

Dalam rangka pembangunan STP (Sience Techno Park) di Indonesia,  Kementerian Riset,  Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Jenderal kelembagaan Iptek dan Dikti terus melakukan terobosan.

Salah satunya adalah kerjasama dalam mengembangkan STP  dengan negara-negara yang telah maju dalam mengembangkan STP. Kemenristekdikti bekerja sama State Secretariat for Education, Research and Innovation (SERI) Switzerland mengadakan seminar Internasional.

Topik utama seminar Internasional ini adalah bagaimana STP dapat mendorong inovasi dengan berkaca dari pengalaman Swiss dan Indonesia. Seminar ini bertujuan untuk mengeskplore potensi inovasi di kedua negara dan mengidentifikasi komponen untuk membuat STP yang sukses.

Seminar yang diselenggarakan Kamis tanggal 13 Juni  2017 di Gedung Kemenristekdikti Senayan Jakarta ini menghadirkan pembicara dari pihak Swiss yaitu  Head of International Relation Swiss State Secretariat for Education, Research and Innovation Ambassador Mauro Moruzzi, EPFL Presidency & Dean of EPFL Middle East  Prof. Franco Vigliotti, Deputty Head & Team Leader for Foundation Affairs Zurich TECHNOPARK Matthias Holling.

Sedangkan dari pihak Indonesia menghadirkan Director, Sains and Techno Park Lukito Hasta, Director for Business Development & Incubator Universiras Gajah Mada Hugo Utomo, Head of Manufacturing Services PT. Nestle Indonesia David Hari Tjahjono, Director Cikarang Techno Park Johan Tamsir, dan Ditektur STP IPB Meika Syahbana Rusli.

Seminar terbagi menjadi empat segmen, yang pertama adalah lanskap penelitian dan inovasi di Indonesia dan Swiss, sesi ini juga akan membahas tentang bagaimana kebijakan publik dapat mendorong inovasi melalui penciptaan STP.  Segmen kedua akan dipimpin oleh universitas, tempat penelitian akademis dan ilmiah diambil. Tempat, bagaimana universitas dapat menjembatani penelitian akademisi ke industri dan keterlibatan akademisi.

Segmen ketiga akan dipimpin oleh administrator STP dan Innovation Park, yang akan membahas faktor-faktor yang membuat STP sukses, mulai dari perencanaan hingga manajemen, mulai dari penganggaran hingga insentif, dan semua aspek di dalamnya,  mengukur keberhasilan dalam menjalankan STP, baik dari sudut pandang penciptaan lapangan kerja, keuntungan finansial, atau keterlibatan dengan sektor swasta.

Segmen terakhir menyoroti peran industri swasta, melihat keuntungan dari kemitraan industri akademis untuk mendorong inovasi dan berkontribusi pada ekonomi.

Dalam kesempatan tanya jawab dengan wartawan, Menteri Riset, Technologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menyatakan bahwa Kemenristekdikti  mendorong STP dalam peneliti harus based in demand, harus mengarah pada rencana induk riset nasional yang telah dibuat oleh Kemenristekdikti.

Rencana induk riset nasional terdapat 10 bidang dengan 7  bidang utama, yaitu bidang pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, transoporasti, energi baru dan terbarukan, teknologi informasi  komunikasi, material maju, kemaritiman,  kebencanaan, social humaniora, seni budaya, pendidikan” katanya.

kiki/rudsnow/foto tulus

Share this: