Kerja Sama dengan Jerman dalam Penerapan Teaching Industry Politeknik di Indonesia

jerman

Pemerintah Jerman akan membantu program revitalisasi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia. Kerja sama ini akan dimulai pada Bulan Juli 2017 tahun ini. Kerjasama meliputi bantuan berupa  tenaga ahli dalam penerapan dual system dan pembangunan teaching factory atau teaching industry di politeknik-politeknik yang menjadi pilot project revitalisasi pendidikan tinggi vokasi.

Demikian inti pembicaraan antara Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo dengan Deniz Sertcan dan Svann Langguth dari Bagian Kerja Sama Pembangunan Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia serta Stefan Erber dari Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit GmbH (GIZ). Pembicaraan berlangsung di Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Selasa, 9 Mei 2017.

Dalam keterangannya, Patdono menjelaskan bahwa apresiasi masyarakat maupun industri di Indonesia terhadap politeknik belum sebagus di Jerman. Menurutnya, di Jerman pendidikan vokasi sudah menjadi primadona. Banyak lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Di Jerman pendidikan vokasi bisa maju karena industrinya banyak terlibat dalam pendidikan vokasi ini. Lulusannya mendapatkan sertifikat kompetensi dari KADIN-nya. Sertifikat itu digunakan untuk mencari pekerjaan, “ katanya. “Jadi lulusan SMK di Jerman itu bisa dikatakan pasti mendapatkan pekerjaan dan itu diakui oleh industrinya, disamping diterima oleh industri, mereka juga mendapatkan remunerasi,” jelasnya lagi.

Menurut Patdono, kurikulum politeknik di Indonesia juga menerapkan 70% praktik dan 30% teori, dan hal ini akan membentuk lulusan politeknik lebih unggul dari universitas. “Dunia industri di Indonesia sangat membutuhkan para tenaga kerja terampil dan kompeten dalam bidangnya, tidak hanya pintar dalam teorinya saja, karena pintar teori belum tentu terampil dalam praktik. Masyarakat Indonesia harus mengerti akan hal itu, “ pungkasnya.

firly/sn

Share this: