Forwarek Bertekad Sukseskan Program Kerja Sama Perguruan Tinggi

gaji-besar-800x417

Forum Wakil Rektor (Forwarek) se-Indonesia untuk bidang kerjasama bertekad turut mensukseskan program kerja sama Kemenristekdikti, diantaranya adalah perguruan tinggi  mampu menghasilkan lulusan yang terampil dan menghasilkan karya inovasi yang mampu meningkatkan daya saing bangsa.

Hal ini disampaikan Ketua Forwarek Muslim, dalam Lokakarya Forwarek Bidang Kerjasama, di Semarang, 6-8 April 2017. “Pertemuan Forwarek ini sengaja dilakukan tidak lain untuk mensosialisasikan program Forwarek yakni kerja sama khususnya kegiatan Pusat Unggulan Iptek (PUI), inovasi, konsorsium  keilmuan, klinik manuskrip dan akreditasi jurnal inovasi dan industri pertukaran mahasiswa serta database perguruan tinggi,’’ jelasnya.

Muslim menambahkan, Forwarek juga menjadi wadah komunikasi, interaksi, sharing, diskusi, bertukar Informasi antara perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Hadir dalam lokakarya ini 108 peserta dari perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia.

Muslim menambahkan, bahwa “Forum ini sendiri bertujuan sebagai salah satu upaya untuk mendorong peningkatan kualitas kerja sama perguruan tinggi melalui pengembangan wawasan dan kapasitas penyelenggaraan tata kelola kerja sama, baik kerja sama dalam negeri maupun luar negeri serta mendukung strategi pengembangan kerja sama perguruan tinggi.”

Sementara itu Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignyo, yang hadir membuka pertemuan ini sependapat agar Forwarek turut serta mengembangkan perguruan tinggi di Indonesia menjadi perguruan tinggi yang unggul dan mampu  menghasilkan pekerja yang terampil dan karya-karya inovatif untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Patdono Suwignjo menjelaskan ada dua instruksi Pemerintah terhadap kemenristekdikti yakni menghasilkan pekerja terampil dan menghasilkan inovasi. “Saya berharap para wakil rektor bidang kerja sama ini dapat meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan  intruksi pemerintah tersebut, yakni perguruan tinggi menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan juga mampu menghasilkan inovasi-inovasi yang yang mampu dikembangkan untuk kemajuan bangsa. Ini juga sesuai dengan intruks pemerintah terhadap Kemenristekdikti,” ujarnya.

Patdono kembali mengingatkan soal Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa pendidikan akademik, universitas, institut teknologi dan sekolah tinggi memiliki tugas mengembangkan ilmu pengetahuan. Sementara pendidikan vokasi seperti politeknik, akademi, akademi komunitas memiliki tugas menghasilkan dan  mengembangkan keterampilan. Pemerintah Joko Widodo saat ini serius ingin mengembangkan pendidikan vokasi yang mengarah ke penddidikan keterampilan untuk pemenuhan dunia industri.

Permintaan industri terhadap lulusan pendidikan vokasi terus meningkat dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Untuk itu, Kemenristekdikti melakukan revitalisasi terhadap lembaga pendidikan tinggi. Bentuk revitalisasi yang dilakukan diantaranya setiap politeknik harus mempunyai partner industri sebagai mitra dalam mengebangkan kurikulum, tenaga kerja, magang industri bahkan penyaluran tenaga kerjanya.

Direktur Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Totok Prasetyo, yang punya hajat pertemuan ini berharap agar pertemuan ini menjadi tempat berkumpulnya para ahli di bidangnya. PUI dan perguruan tinggi harus duduk bersama membahas berbagai hal mulai bagaimana cara mengusulkan proposal kegiatan dan program, tolak ukur kemampuan atau keunggulan dari perguruan tinggi masing-masing seperti apa, ketersediaan anggaran  hingga pendampingan pelaksanaan kegiatan.

Bidang fokus dari tim PUI saat ini adalah 7 bidang + 1, yakni bidang pangan, energi terbarukan,  teknologi dan manajemen transportasi, teknologi infomasi dan komunikasi, teknologi pertahanan dan keamanan, teknologi kesehatan dan obat, material maju dan plusnya adalah bidang maritim.

“Harapan terhadap PUI harus menghasilkan output yang sesuai dengan harapan pemerintah, yakni menghasilkan penelitian-penelitian yang mencapai readiness level 9 dan siap untuk dihirilisasi,” imbuhnya.

Di dalam struktur organisasi PUI, penelitian dan pengembangan dibedakan menjadi empat, yakni ; pertama, Lembaga penelitian dan pengembagan tujuannya untuk menghasilkan publikasi internasional, paten, dan prototype. Kedua, Lembaga penelian inovatif adalah lembaga penelitian yang bisa mencapai readiness levelnya 9 yang secara teknologi siap dikomersilkan.

Ketiga, Pusat unggulan Iptek yang dibagi menjadi empat tingkatan yaitu PUI Pratama, PUI Madya, PUI Utama dan PUI unggul dan keempat,  Science Techno Park (STP). Hasil penelitiannya bisa dikomersilkan tidak hanya satu, tetapi banyak.

Sementara itu Direktur Sistem Inovasi  Kemenristekdikti Ophirtus Sumule yang mewakili Dirjen Penguatan Inovasi mengatakan  “Jika berbicara tentang inovasi, maka kita berbicara tentang daya saing. Jika berbicara tentang daya saing, maka kita berbicara tentang globalisasi yang semakin pesat. Tentunya kita harus dapat membandingkan posisi Indonesia ada dimana,” jelasnya.

Pada tahun 2016, ranking Indonesia sendiri dalam daya saing global berada pada urutan 37 dari 138 negara. Kemudian turun ke urutan 41 di tahun 2017. Ophirtus menjelaskan, sebenarnya bukan Indonesia yang menurun, namun negara lain yang bergerak lebih maju.

“Ada beberapa pilar yang sangat terkait dengan tugas pokok Kemenristekdikti yakni pertama high education dan training, kesiapan teknologi, dan inovasi,” pungkasnya.

Bagus/ramdlan

Share this: