ALAT DETEKSI JANTUNG DENGAN FIBER OPTIK

89bb69cd72f8f768be375e245ea85ab6_XL

Selama ini untuk mendeteksi penyakit jantung menggunakan pemeriksaan dan sejumlah alat, seperti EKG, Echo, treadmill, MRI, dan sejenisnya. Namun, kali ini ada upaya pengembangan alat pendeteksi sakit jantung dengan fiber optik.

Alat ini dikembangkan oleh dosen program studi Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) M Yasin bersama dua peneliti dari universitas yang sama, Retna Apsari dan Yhosep Gita Yhun Yuwana. Penelitian ini telah diterbitkan di jurnal Optik Optics pertengahan Januari 2017, berjudul “Fiber Optic Sensor for Heart Rate Detection.”

Yasin menjelaskan, metode yang dikembangkan tersebut adalah dengan mendeteksi aktivitas listrik yang dihasilkan jantung dengan menggunakan sinar laser dan sensor fiber optik. Serat optik ini berfungsi untuk merambatkan cahaya laser. Fiber optik ini dipasangi sebuah instrumen bernama bundle probe yang digunakan untuk memeriksa luka atau bagian tubuh. Instrumen tersebut diarahkan ke objek yang dilapisi kaca.

Dalam penelitian itu, Yasin dan tim memanfaatkan pengeras suara untuk mengganti detak jantung asli. Proses kerjanya, sinar laser ditransmisikan melalui serat ke arah pengeras suara yang diatur dengan penguat sinyal audio. Sinyal dari pengeras suara dipantulkan melalui kaca dan diterima oleh fiber. Sinyal suara tersebut dikonversi menjadi sinyal listrik. Hasil deteksi aktivitas listrik dilihat melalui osiloskop.

“Objek benda ditembak dan ditampilkan di osiloskop. Ini bisa juga dimanfaatkan untuk endoskopi organ. Fiber itu seperti kabel yang merambatkan cahaya. Fiber ini bergelombang bila kena gelombang suara. Perubahan itu yang dideteksi dan kita ukur,” jelas Yasin dalam pernyataannya, pekan lalu.

Untuk memeriksa detak jantung pasien, tambah dia, biasanya tenaga medis menggunakan alat bernama elektrokardiogram (EkG). Dengan metode yang tengah dikembangkan timnya, tubuh pasien tak perlu dipasangi peralatan karena cukup ditembak dengan sinar laser. Keunggulan lainnya, hasil aktivitas listrik yang diukur lebih presisi. Tingkat ketelitiannya sama dengan panjang gelombang cahaya dengan satuan nanometer.

Saat ini ‘fosin dan tim terus berupaya memantapkan penelitian tersebut. Di penelitian lanjutan, dia akan mengoptimasi sistem sensor sinyal dengan metode microbending atau lengkungan.

“Fiber itu lurus. Kalau ditekan, melengkung. Lengkungan itu mengakibatkan perubahan intensitas cahaya. Perubahan itulah yang diteliti lebih detail, apakah detak jantung seirama dengan pergeseran fiber itu. Baru setelah itu bisa diterapkan pada manusia,” ujar dosen berprestasi pada 2013 ini. edi dewi mardiani’

sumber:Republika/07 Maret 2017

Share this: