Perguruan Tinggi Jangan Langgar Aturan

Agus Medan

Medan – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi terus melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap perguruan tinggi yang bermasalah. Hal tersebut dilakukan untuk menjadikan perguruan tinggi itu semakin baik dan dapat meningkat mutunya.

Demikian disampaikan Sekretaris Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti, Agus Indarjo, sebelum acara penyerahan surat keputusan (SK) Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tentang perubahan badan penyelenggara perguruan tinggi swasta (PTS) untuk lingkungan Kopertis Wilayah I, di Hotel Polonia, Medan, Sabtu 25 Februari 2017.

penyerahan sk peserta

Agus Indarjo mengingatkan jika setelah dilakukan pendampingan masih terjadi konflik di PTS secara terus menerus maka izin penyelenggaraan akan dicabut, dan sebaliknya jika PTS tersebut menjadi semakin baik maka akan di dibina hingga akreditasinya bisa meningkat.

“Jika melanggar aturan, seperti tidak terakreditasi, memberikan ijazah kepada mahasiswa yang tidak terdaftar,  hingga terus terjadinya konflik pada perguruan tinggi, maka akan dicabut izin penyelenggaraannya,” tegas Agus dihadapan sekitar 250 ketua yayasan dan pimpinan PTS se Sumatera Utara itu.

Di Kopertis Wilayah I Sumatera Utara terdapat 141 badan penyelenggara yang telah berubah badan penyelenggaranya tanpa izin pemerintah. Jumlah tersebut 51% dari 264 PTS yang ada di Sumatera Utara. Konsekuensi perubahan tanpa izin ini menjadikan PTS bersangkutan ilegal.

Mengingat jumlah yang terlalu banyak, maka pemerintah memutuskan untuk memberikan “amnesty” sehingga keberadaan 141 PTS tersebut menjadi legal kembali. Pada tahap pertama ini, diserahkan sebanyak 50 SK. Sementara sisanya sebanyak 91 SK lagi akan diserahkan pada tahap kedua.

Ichsan Madya, pengurus Yayasan Indah Medan mengatakan yayasannya menjadi salah satu yang diperbaiki nama badan penyelenggaranya. “Di dalam SK tertera Akademi Farmasi Indah berdomisili di Deli Serdang, karena awal berdirinya memang disana, katanya, namun saat ini telah menetap di Medan, sehingga dengan dasar tersebut yayasan indah merubah nama menjadi Akademi Farmasi Indah Medan.”

Ichsan menambahkan, “syarat untuk mendapatkan SK dimulai dari pengecekan oleh Kopertis dan kemudian diverfikasi langsung oleh Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, setelah itu proses mendapatkan SK baru, jika perguruan tinggi tersebut sudah memenuhi persyaratan yang diberikan,” ujarnya senang akan mendapat SK baru.

“Sejauh ini saya melihat progres yang sangat bagus, karena proses lebih cepat dari sistem sebelumnya, saya berharap ada peningkatan kinerja mengingat masih banyaknya permasalahan perguruan tinggi, dan kedepan untuk kopertis saya harap lebih meningkatkan kualitas PTS di Sumatera Utara, dengan membuat sistem atau cara baru,” pungkasnya.

IMG_6360 (1)Sementara itu,  Koordinator Kopertis Wilayah I Dian Armanto mengatakan permasalahan yang biasa terjadi di lingkup badan penyelenggara atau yayasan adalah seperti salah ketik nama yayasan, membuat nama baru dengan menambah nama kata “Medan”, atau “Sumatera Utara,” dan organisasi yayasan berubah namun tidak dilaporkan ke Kemenristekdikti.

“Jika terjadi organisasi yang berbeda hingga perubahan nama perguruan tinggi, maka pihak yayasan harus melapor ke Kopertis dan Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti agar dapat di data ulang dan diberikan SK penyelenggaraan seperti ini, sehingga kedepan dapat meningkatkan mutu PTS itu sendiri,” kata Dian.

Sehari sebelumnya, pada tanggal 24 Februari 2017 Kopertis Wilayah I menggelar sosialisasi terkait dengan aturan baru syarat pendirian, perubahan, dan pencabutan izin PTS. Sosialisasi menghadirkan dua narasumber, yaitu Kepala Bagian Hukum, Kerjasama, dan Layanan Informasi Ditjen Kelembagaan Iptek dan Dikti, Sakti Nasution dan Notaris PPAT Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Elawijaya Alsa.

Koordinator Kopertis Wilayah I mengatakan sosialisasi ini penting untuk mengingatkan kembali seluruh pimpinan PTS bagaimana prosedur yang telah ditetapkan untuk mengurus program studi baru hingga mendirikan perguruan tinggi baru.

firly/sn

Share this: