Pendampingan agar Lembaga Litbang Menjadi Unggul

IMG_3848

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti, Kemal Prihatman, mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pendampingan kepada lembaga penelitian dan pengembangan (lembaga litbang) untuk menjadikan lembaga yang unggul.

Hal tersebut dikemukannya dalam acara ? diskusi mengenai peran kelembagaan iptek dalam meningkatkan daya saing bangsa, di ruang rapat lantai 3 Gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta, Selasa 21 Februari 2017.

Lebih lanjut Kemal menjelaskan, bahwa Kemenristekdikti telah mengeluarkan beberapa kebijakan, diantaranya kebijakan penguatan kelembagaan iptek yang telah dilakukan melalui kegiatan peningkatan kualitas kelembagaan iptek dan dikti.

Kebijakan tersebut antara lain dilakukan untuk peningkatan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama pemanfaatan hasil litbang yang memiliki keunggulan kompetitif. “Sehingga dapat dimanfaatkan ke pihak pengguna, yaitu masyarakat, pemerintah, maupun dunia usaha,” katanya

Diskusi menghadirkan Yanuar Nugroho dari Kedeputian II Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu sosial Sosial, Ekologi dan Budaya Strategis Kantor Staf Presiden, dan Tulus TH Tambunan, kontributor World Economic Forum (WEF) untuk Indonesia.

Yanuar mengemukakan ada tiga komponen utama yang harus dilakukan dalam pendampingan lembaga litbang. “Ketiga komponen itu adalah kerangka regulasi, kerangka istitusi, kerangka kapabilitas.”

Menanggapi hal tersebut Kemal menyebutkan bahwa ketiga kerangka yang dijelaskan oleh Yanuar tersebut sudah ada dalam kegiatan pemdampingan kepada lembaga litbang, yaitu kapasitas, kapabilitas, dan kontinuitas, disana juga ada input, proses, dan output,” ujarnya

Sementara itu Tambunan mengatakan bahwa antara tahun 2012 – 2014 peringkat daya saing bangsa Indonesia terus meningkat, namun pada laporan tahun 2015 peringkat daya saing Indonesia kembali turun menjadi 37.

Dalam laporan indeks daya saing WEF 2016 – 2017, posisi Indonesia berada di peringkat 41. Peringkat ini tidak lebih baik dibandingkan dengan negara ASEAN lainya, seperti Thailand (34), Malaysia (25), dan Singapura (2). Indonesia masih unggul dibandingkan Filipina (57), Vietnam (60), dan Laos (93).

Trend peringkat daya saing bangsa Indonesia masih fluktuatif. “Keadaan ini tentunya menuntut bangsa ini untuk maju dan terus meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi agar dapat meningkatkan kembali kemampuan bangsa ini,” tegas Tambunan.

Diskusi semacam ini penting, untuk mendapatkan gambaran dan masukan dari para pemangku kepentingan (stakeholders) terutama terkait dengan indikator indeks daya saing bangsa dan peran kelembagaan iptek dan dikti dalam meningkatkan daya saing lembaga litbang.

firly/sn

Share this: