Kunci Sukses STP: Transfer Teknologi dan Inkubasi Bisnis

Screenshot_2017-01-23-12-37-46

BOGOR – Indonesia terus berupaya meningkatkan daya saing bangsa melalui inovasi-inovasi terbaru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat. Kolaborasi dalam quarter helix antara akademisi, bisnis, pemerintah dan masyarakat terus dilakukan. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengurangi hasil penelitian yang hanya berhenti di perpustakaan saja, namun dapat meningkatkan hasil penelitian yang dihilirkan ke industri dan berguna bagi masyarakat.

Pemerintah melalui Kemenristekdikti terus mendorong para peneliti meningkatkan hilirisasi hasil penelitian di Indonesia. Untuk itu, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti Kemenristekdikti Patdono Suwignjo, meninjau langsung Pusat Inovasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Pusinov LIPI), untuk mengetahui sejauh mana hasil penelitian yang dihasilkan para peneliti, apakah sudah masuk dunia industri, atau bahkan sudah dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, Kamis (19/1/2017).

LIPI merupakan salah satu Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) Kemenristekdikti. Pada tahun 2001, LIPI mendirikan Pusat Inovasi yang merupakan salah satu Pusat dari 22 Pusat Penelitian yang ada di LIPI, tepatnya berada didalam Kedeputian Bidang Jasa Ilmiah – LIPI. Semenjak tanggal 13 Februari 2013, Pusat Inovasi LIPI berpindah kantor ke gedung baru yang berlokasi di komplek Cibinong Science Center – Botanical garden (CSC – BG) di Cibinong, Jawa Barat.

Pusat Inovasi LIPI yang merupakan Science Technopark Cibinong ini, salah satu dari 60 STP yang sudah mulai pembangunannya dan terus mendapatkan dukungan pemerintah, dan yang paling maju dilihat dari banyaknya pengusaha pemula berbasis teknologi.

Deputi Jasa Ilmiah LIPI Bambang Subiyanto, menyambut baik kedatangan Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti beserta rombongan. Kepala Pusat Inovasi LIPI  Nurul Taufiqu Rahman menjelaskan, bahwa STP Cibinong ini letaknya sangat strategis dan dekat dengan kota Jakarta, sehingga dapat mendukung kegiatan perekonomian. “Dilihat dari letak lingkungan yang strategis, STP Cibinong memiliki 7 pusat di lipi yang terintegrasi, dan dekat dengan perguruan tinggi Universitas Indonesia, Intitut Pertanian Bogor, dan pemda Bogor,” ujarnya.

Nurul Taufiqu Rahman, yang dikenal sebagai pakar nanoteknologi  terkemuka di negeri ini, dalam paparannya menjelaskan, CSC – BG akan menuju Model STP Nasional, dimana sebelumnya pada tahun 2014 berfungsi sebagai pusat riset dan pengembangan, di tahun 2019 bermetamorfosa  sebagai pusat diseminasi IPTEK dan alih teknologi, melalui berbagai langkah strategis yaitu akselerasi alih teknologi, penguatan infra/fasilitas, penguatan tata kelola CSC – BG, dan Scitainment/Edutainment.

Dalam arahannya, Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti  mengatakan di tahun 2017 ini akan mewisuda beberapa STP yang kita nilai sudah mencapai tahapan STP yang mature. “ Untuk itu, saya perlu melihat situasi dari STP ini dilapangannya seperti apa, meskipun nanti ada tim yang akan melakukan evaluasi, untuk memutuskan apakah bisa STP ini diwisuda sebagai STP yang mature,” jelasnya.

Patdono menambahkan mengenai kunci sukses pembangunaan STP. “Menurut saya, kunci sukses pembangunan STP adalah, bagaimana STP tersebut bisa melakukan Trasnfer Teknologi dan Bisnis Inkubasi,” tambahnya.

Dirjen Kelembagaan Iptek dan Dikti beserta rombongan juga melihat langsung hasil Inovasi STP Cibinong, mulai dari hasil bidang pangan, hingga produk perawatan kulit gizi super cream yang diproduksi menggunakan nano technology serta SPF 18, yang sudah masuk ke salah satu jaringan mini market terbesar di Indonesia di lebih dari 7.000 toko.

(firly)

Share this: