ITK Pandang Konferensi Terindeks Angkat Derajat Perguruan Tinggi

er

BALIKPAPAN – Institut Teknologi Kalimantan (ITK) memandang konferensi internasional terindeks sebagai cara efektif untuk mengangkat derajat perguruan tinggi di level internasional.

Pandangan tersebut mengemuka dalam sebuah workshop yang diadakan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITK, di kampus ITK Balikpapan, Sabtu, 24 September 2016.

“Layaknya penyelenggaraan olimpiade yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi suatu negara, konferensi internasional juga demikian. Ia akan menjadi lokomotif percepatan kemajuan dan pembangunan perguruan tinggi yang menyelenggarakan. Ini cocok bagi ITK sebagai perguruan tinggi negeri baru yang bertugas meningkatkan kualitas SDM bagi kawasan Indonesia bagian timur,”ujar Hendro Nurhadi, dosen Teknik Mesin ITS yang menjadi narasumber utama dalam kegiatan tersebut.

Senada dengan Hendro, Ketua Lembaga Penelitian pada Masyarakat (LPPM) ITK Subchan mengemukakan, dalam waktu dekat perguruan ini akan menggelar konferensi internasional di Balikpapan. “Selain untuk menyalurkan tridarma perguruan tinggi bagi para dosen, konferensi internasional di ITK akan menggeliatkan atmosfer penelitian di Kalimantan,” ujarnya.

Ditandaskan pula, sebagai PTN baru ITK harus tancap gas, menyejajarkan diri dengan universitas terkemuka di Asia.

Tahap Konferensi
Dalam wokshop yang diikuti 30 dosen dan tenaga kependidikan itu Hendro memaparkan empat tahap menyelenggarakan konferensi internasional. Pertama, tahap persiapan. Menurutnya, penyelenggara harus menentukan cakupan konferensi, kandidat publisher atau penerbit, hingga sistem layanan pengatur konferensi. “Bisa jadi peserta akan membeludak jika cakupannya terlalu luas. Tapi peluangnya akan semakin sulit untuk mencari publisher yang akan menerbitkan makalah peserta konferensi itu,” kata pakar robotika ini.

Tahap kedua, lanjut Hendro, adalah prakonferensi yang melihat ketersediaan dana untuk penyelenggaraan, menentukan susunan kepanitiaan, waktu, tempat acara, format, fitur acara tambahan, penentuan reviewer makalah, keynote speaker, dan publikasi.

Ketika konferensi internasional berlangsung, misalnya, panitia harus konsisten menggunakan bahasa Inggris di setiap sesi, ketepatan waktu, dan kesekretariatan yang perannya sangat penting. “Penyelenggaraan pertama akan menjadi tolak ukur yang dinilai peserta, apakah mereka akan mengikuti acara ini tahun berikutnya,” kata Hendro mengingatkan.

Menurutnya, tahapan yang harus disoroti adalah pascakonferensi. “Saat itulah panitia menentukan format makalah, hak cipta, hingga memastikan semua makalah peserta dikirimkan dan diunggah oleh organisasi penstandar-pengindeks konferensi internasional,” katanya.

Hendro diundang karena keberhasilannya memimpin sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan ITS Surabaya pada 2015 lalu, yakni International Conference on Advanced Mechatronics,Intelligent Manufacture and Industrial Automation (ICAMIMIA).

Humas ITK/Ridho Jun Prasetyo

Share this: